cerpen singkat tentang sekolah
Cerpen Singkat Tentang Sekolah: Melodi Kenangan di Balik Papan Tulis
Bab 1: Aroma Kapur dan Mimpi
Pukul 06.30. Aroma kapur bercampur debu menyambutku di gerbang sekolah. SMA Negeri Harapan Bangsa, begitu nama sekolah ini tertera gagah di atas gerbang besi. Bukan sekolah favorit dengan fasilitas mewah, namun di sinilah, di antara tembok-tembok yang mulai mengelupas catnya, mimpi-mimpi kami ditanam.
Pagi ini, seperti biasa, aku berlari kecil menghindari keterlambatan. Pak Budi, guru BK berkumis tebal, sudah berdiri tegap di depan gerbang, siap menyambut siswa-siswi yang terlambat dengan senyum masam dan ceramah panjang lebar. Aku berhasil lolos, menyelinap di antara kerumunan siswa yang berdesakan menuju kelas.
Kelas XI-IPA 2. Kelas yang berisi 32 jiwa dengan karakter seunik warna pelangi. Ada Rina, si kutu buku yang selalu menunduk dengan hidung menempel pada buku tebal. Ada Bima, si atlet basket dengan postur menjulang dan senyum menawan. Ada juga Sarah, si artis kelas yang selalu tampil modis dan penuh percaya diri. Dan aku, Maya, si pengamat kehidupan yang lebih suka duduk di pojok belakang sambil menulis puisi di buku catatan usang.
Pelajaran pertama adalah Fisika, mata pelajaran yang paling aku hindari. Rumus-rumus yang rumit dan angka-angka yang memusingkan selalu membuatku merasa seperti tersesat di labirin tanpa jalan keluar. Pak Anton, guru Fisika yang sabar dan penyayang, selalu berusaha menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti. Namun, tetap saja, Fisika tetaplah Fisika, momok yang menakutkan.
Di sela-sela penjelasan Pak Anton, aku mencuri pandang ke arah Bima. Ia duduk di bangku depan, tampak serius mencatat rumus-rumus. Diam-diam, aku mengaguminya. Bukan hanya karena ketampanannya, tapi juga karena semangatnya yang tak pernah padam. Ia selalu berusaha keras untuk meraih mimpinya menjadi pemain basket profesional.
Bab 2: Kantin Sekolah dan Persahabatan
Bel istirahat berbunyi nyaring, memecah keheningan kelas. Seketika, kelas berubah menjadi pasar yang ramai. Siswa-siswi berhamburan keluar, menuju kantin sekolah yang selalu dipenuhi aroma gorengan dan mie instan.
Kantin sekolah adalah jantung dari kehidupan sosial di SMA Negeri Harapan Bangsa. Di sinilah, persahabatan terjalin, cinta bersemi, dan gosip beredar dengan cepat. Aku bergabung dengan Rina dan Sarah di meja pojok kantin.
“Maya, kamu sudah mengerjakan PR Kimia?” tanya Rina dengan wajah cemas.
“Belum,” jawabku singkat. Kimia adalah mata pelajaran kedua yang aku hindari.
“Aduh, aku juga belum. Aku bingung dengan soal nomor 5,” keluh Rina.
Sarah tertawa. “Kalian ini, selalu saja pusing dengan PR. Santai saja, nanti juga ada yang mau membantu.”
Sarah memang selalu optimis. Ia selalu melihat sisi positif dari setiap masalah. Ia adalah perekat yang menyatukan kami bertiga.
Sambil menyantap mie ayam, kami bertiga bertukar cerita. Rina bercerita tentang novel terbaru yang sedang dibacanya. Sarah bercerita tentang audisi drama sekolah yang akan datang. Aku bercerita tentang puisi yang baru saja aku tulis.
Di tengah obrolan kami, Bima tiba-tiba menghampiri meja kami. “Maya, bisa bantu aku mengerjakan soal Fisika?” tanyanya dengan senyum manis.
Jantungku berdegup kencang. Aku mengangguk gugup.
“Kebetulan sekali, aku juga kesulitan dengan Fisika,” sahut Rina.
“Kalau begitu, kita belajar bersama saja,” usul Bima.
Kami berempat, Rina, Sarah, Bima, dan aku, duduk bersama di meja kantin, membahas soal-soal Fisika yang rumit. Bima menjelaskan dengan sabar dan teliti. Aku berusaha memahami setiap rumus dan konsep. Rina mencatat dengan rapi. Sarah menyemangati kami dengan humornya.
Di momen itulah, aku menyadari bahwa sekolah bukan hanya tentang belajar dan mengerjakan PR. Sekolah juga tentang persahabatan, tentang saling membantu, dan tentang menciptakan kenangan indah.
Bab 3: Tahap Impian dan Keberanian
Minggu ini adalah minggu yang sibuk di SMA Negeri Harapan Bangsa. Sekolah mengadakan pentas seni tahunan. Semua siswa-siswi berpartisipasi dalam berbagai kegiatan, mulai dari tari tradisional, musik modern, hingga drama teater.
Sarah terpilih sebagai pemeran utama dalam drama teater yang berjudul “Panggung Impian”. Ia memerankan seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi seorang penyanyi terkenal. Sarah sangat bersemangat dengan peran ini. Ia berlatih setiap hari, menghafal dialog, dan menghayati karakter.
Aku ditunjuk sebagai penulis naskah puisi untuk pembukaan pentas seni. Aku merasa gugup dan terbebani. Aku belum pernah menulis puisi di depan banyak orang. Aku takut puisi yang aku tulis tidak akan diterima.
Bima menjadi bagian dari tim dekorasi panggung. Ia membantu membuat properti dan menata panggung agar terlihat indah dan menarik. Rina menjadi sukarelawan di bagian konsumsi. Ia membantu menyiapkan makanan dan minuman untuk para penonton.
Hari pentas seni tiba. Aku merasa sangat tegang. Aku berdiri di belakang panggung, memegang naskah puisi dengan tangan gemetar. Aku melihat Sarah di atas panggung, mengenakan kostum yang indah dan tersenyum percaya diri. Aku melihat Bima di samping panggung, memberikan semangat kepada Sarah. Aku melihat Rina di belakang panggung, sibuk menyiapkan minuman untuk para pemain.
Aku menarik napas dalam-dalam dan melangkah maju ke atas panggung. Aku mulai membacakan puisi yang aku tulis. Awalnya, suaraku bergetar. Namun, semakin lama, suaraku semakin lantang dan penuh semangat. Aku merasakan energi dari para penonton. Aku melihat mereka mendengarkan dengan seksama. Aku melihat mereka tersenyum dan mengangguk-angguk.
Setelah aku selesai membacakan puisi, para penonton bertepuk tangan meriah. Aku merasa lega dan bahagia. Aku berhasil mengatasi rasa takutku dan memberikan yang terbaik.
Sarah tampil memukau dalam drama teater. Ia bernyanyi dengan suara merdu dan berakting dengan penuh penghayatan. Bima berhasil membuat panggung terlihat indah dan megah. Rina berhasil menyediakan makanan dan minuman yang lezat untuk para penonton.
Pentas seni tahunan SMA Negeri Harapan Bangsa berjalan sukses. Semua siswa-siswi merasa bangga dan bahagia. Kami telah menunjukkan bakat dan kemampuan kami. Kami telah menciptakan kenangan indah yang akan kami ingat selamanya.
Di balik papan tulis dan aroma kapur, sekolah adalah tempat di mana kami menemukan diri kami sendiri, menemukan teman sejati, dan menemukan keberanian untuk meraih mimpi. Sekolah adalah melodi kenangan yang akan terus terngiang di telinga kami, bahkan setelah kami lulus dan meninggalkan gerbang sekolah. Sekolah adalah rumah kedua kami, tempat di mana kami tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Sekolah adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup kami.

